A. Pendahuluan
Seperti sudah jamak diketahui, filsafat berasal dari kata Yunani Philosophia yang artinya: mencintai kebijaksanaan. Meski begitu, makna secara bahasa tersebut tidak menjadikannya terbatas pada pemahaman dari filsafat itu sendiri, definisi itupun belum dapat menampakkan hakekat filsafat yang sebenarnya karena “mencintai” masih dapat dilakukan secara pasif saja, sedangkan di Yunani sebagai cikal bakal filsafat Barat, filsafat mengandung gagasan bahwa orang yang mencintai kebijaksanaan tadi, dengan aktif berusaha memperoleh kebijaksanaan tersebut. Oleh karena itu arti filsafat secara terminologis di barat lebih mengandung arti “himbauan pada kebijaksanaan”. Dengan kata lain, kebijaksanaan itu belum diraih, masih diusahakan. Seorang filsuf adalah orang yang sedang mencari kebijaksanaan.
Terminologi itu sangat jauh berbeda dengan pengertian “orang bijak” di Timur. Di India misalnya, orang bijak adalah orang yang telah mendapatkan kebijaksanaan, yang meraih kebijaksanaan, bahwa “atman” adalah “Brahman” bahwa jiwa manusia adalah Tuhan sendiri, itulah kebijaksanaan. Begitu pun yang terjadi di Cina kuna. Ialah orang bijak yang telah tahu arti tahu yang sedalam-dalamnya.
Arti pengertian “orang bijak” seperti yang terdapat di Timur itu pada umumnya tidak terkandung di dalam pengertian filsuf di Barat atau di tengah-tengah orang Yunani. Pada umumnya orang bijak atau filsuf disana adalah orang yang sedang berusaha mendapatkan kebjaksanaan atau kebenaran. Sejarah filsafat telah menunjukkan, bahwa setelah timbulnya seorang filsuf timbullah kemudian filsuf lain yang mengoreksi penemuan yang pertama dan mengajukan gagasan yang memperbaharui gagasan yang pertama.
Dari definisi yang beragam itu, filsafat dapat diartikan sebagai usaha manusia dengan akalnya untuk memperoleh suatu pandangan dunia dan hidup yang memuaskan hati. Inilah definisi yang lebih dekat dengan usaha untuk menelusuri sejarah filsafat disepanjang abad-abad hingga sekarang ini.
Atas dasar itulah kami berupaya sedikit mengulas sejarah awal filsafat yang berkembang di Barat, yang mana sejarah kebanyakan mencatat bahwa filsafat Barat mulai mencapai babak baru dalam membahas manusia sebagai pusat objek filsafat, saat masa Socrates, seorang yang dikenang sebagai salah satu filsuf terbesar dalam sejarah filsafat di dunia Barat. Ia pula yang kemudian dikenal sebagai peletak dasar-dasar ilmu filsafat.
B. Biografi Socrates
Socrates (Yunani: Σωκράτης, Sǒcratēs) diperkirakan lahir pada 469 / 471 SM dan meninggal pada 399 SM. Dia merupakan salah satu figur paling penting dalam tradisi filosofis Barat. Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Socrates adalah yang mengajar Plato, dan Plato pada gilirannya juga mengajar Aristoteles.
Socrates diperkirakan lahir dari ayah yang berprofesi sebagai seorang pemahat patung dari batu (stone mason) bernama Sophroniskos. Ibunya bernama Phainarete berprofesi sebagai seorang bidan, dari sinilah Socrates menamakan metodenya berfilsafat dengan metode kebidanan nantinya. Socrates beristri seorang perempuan bernama Xantippe dan dikaruniai tiga orang anak.
Atas berbagai pemikiran filsafat yang ia telurkan, di usianya yang ke-70 tahun, ia diberi ‘hadiah’ berupa hukuman mati dengan cara meminum racun atas dakwaan telah merusak moral para pemuda Athena dengan berbagai pemikirannya yang relatif berseberangan dengan orang-orang pada zamannya.
C. Kepribadian dan Ajaran Socrates
Dalam seluruh sejarah filsafat, tidak ada filsuf yang begitu ramai dipersoalkan seperti Socrates. Berbagai anggapan telah dikemukakan tentang kepribadian dan ajarannya. Kedua anggapan yang paling ekstrim ialah di satu pihak bahwa Socrates harus dianggap sebagai filsuf terbesar yang pernah hidup di bumi ini dan di lain pihak bahwa Socrates sendiri sama sekali bukan merupakan seorang filsuf, biarpun melalui Plato, ia sangat mempengaruhi perkembangan pemikiran filsafat.
Hal Ini wajar terjadi karena tak ada satupun peninggalan berupa catatan yang ia tulis dengan tangannya sendiri. Jikapun ada catatan mengenai Socrates, itu diperoleh dari catatan murid-muridnya, seperti Plato, Xenophon, dan banyak lagi murid lainnya, adapun Aristoteles yang merupakan murid tidak langsung dari Socrates, juga memberi kontribusi dalam memberitakan pada kita tentang berbagai pemikiran Socrates. Adapun pada umumnya, pemberitaan yang dipandang sebagai pemberitaan yang lebih dapat dipercaya adalah pemberitaan Plato dan Aristoteles.
Sokrates terbiasa memberi pengajaran pada rakyat. Ia juga mengarahkan perhatiannya pada manusia. Hal ini hampir sama dengan yang dilakukan oleh kaum sofis, perbedaannya terletak pada kebiasaan Socrates yang tak memungut biaya bagi pengajarannya.
Maksud dan tujuan pembelajaran yang dilakukan oleh Socrates adalah untuk mendorong orang lain agar mengetahui dan menyadari kebenaran suatu hal dengan kemampuan berpikirnya sendiri dan bukan dengan tujuan untuk meyakinkan orang untuk mengikutinya tanpa berpikir kritis.
D. Metode Socrates
Cara Socrates memberikan pengajaran ialah dengan metode yang bersifat praktis , yaitu dengan mendatangi orang-orang dengan berbagai macam latar belakang (ahli politik, pejabat, tukang dan lain sebagainya). Dalam hal ini kesaksian Xenophon agak cocok dengan dialog-dialog pertama dari Plato. Menurut Xenophon,, Socrates bertanya: apakah itu salah dan tidak salah? Apakah itu adil dan tidak adil? Apakah itu seorang pemberani dan seorang pengecut? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Diantara dialog-dialog Plato yang pertama ada yang membahas keberanian (dialog yang bernama Lakhês), ada yang membicarakan pengendalian diri atau tahu ukuran (dialog Kharmidês), ada yang mempercakapkan persahabatan (dialog Lysis) dan lain sebagainya.
Jawaban mereka pertama-tama dianalisa dan disimpulkan dalam suatu hipotesa. Hipotesa ini kemudian dikemukakan lagi kepada mereka dan dianalisa lagi. Demikian seterusnya hingga ia mencapai tujuannya, yaitu: membuka kedok segala peraturan atau hukum-hukum yang semu, sehingga tampak sifatnya yang semu, dan kemudian mengajak orang mengajak atau menelusur sumber-sumber hukum yang sejati.
Salah satu metode yang dikembangkan oleh Socrates dalam mengajari orang-orang Athena diantaranya dengan metode ironi (eironeia). Metode ini sengaja diambil karena retorika pendidikan yang telah diberikan para kaum Sofis telah menjadikan banyak orang sombong, maka sering dengan cara yang menggelikan, Socrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sengaja dimaksudkan untuk membingungkan orang-orang itu (aporia). Karena jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu menjadi saling bertentangan, sehingga para penjawab ditertawakan orang orang banyak. Segi positif metode ini terletak dalam upayanya untuk mengupas kebenaran dari kulit “pengetahuan semu”orang-orang itu.
Adapun cara atau metode yang umumnya digunakan oleh Socrates yaitu metode dialektika , yang berasal dari kata Yunani yang artinya “bercakap-cakap”, atau “berdialog”. Metode ini dinamakan dialektika dikarenakan dialog atau wawancara mempunyai peranan hakiki didalamnya. Metode ini memiliki nama lain yang diusulkan langsung oleh Socrates, yaitu maieutikê technê (seni kebidanan). Dengan cara inilah Socrates bertindak untuk membidani jiwa-jiwa, sehingga melahirkan pengetahuan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, istilah ini sedikit banyaknya terinspirasi dari pekerjaan ibunya yang merupakan seorang bidan.
Dengan metodenya tersebut, dia kemudian menemukan suatu cara berpikir yang disebut induksi , yaitu menyimpulkan pengetahuan yang sifatnya umum dengan berasal dari banyak pengetahuan tentang hal yang khusus. Dalam hal ini Socrates menyelidiki apakah yang dimaksudkan orang dengan kata arête (keutamaan). Pada realitanya, banyak orang yang mempunyai keahlian tertentu yang dianggap sebagai arête mereka. Seorang tukang besi mengganggap bahwa keutamaanya ialah saat dia bisa membuat alat-alat dari besi dengan kualitas yang baik. Seorang tukang sepatu menganggap bahwa keutamaanya ialah saat dia bisa membuat sepatuyang baik, nyaman dipakai dan awet. Kemudian untuk mengetahui pakah “keutamaan” pada umumnya, semua sifat khusus keutamaan-keutamaan yang bermacam-macam itu harus disingkirkan. Tinggallah keutamaan yang sifatnya umum, dengan itu pula ditemukanlah definisi umum.
Suatu definisi selalu berupaya menentukan inti sari atau hakekat sesuatu hal. Definisi tentang lingkaran misalnya, pasti menjelaskan apakah sebenarnya hakeket lingkaran. Definisi itu berlaku bagi tiap-tiap lingkaran, entah besar atau kecil, entah di tempat ini atau di tempat lain, entah pada masa kini, masa lalu, atau bahkan masa depan. Dan definisi itu berlaku untuk semua lingkaran, justru karena definisi mau menemukan hakekat yang terdapat pada semua lingkaran. Jadi, definisi hanya mungkin ada, karena adanya sesuatu yang tetap dan mantap pada semua lingkaran, yaitu hakekatnya.
Socrates tidak berhenti pada penemuannya akan definisi umum yang diperlukan bagi keperluan ilmu pengetahuan saja. Ia beranggapan bahwa etikalah yang pertama-tama perlu ditemukan definisi umumnya. Seperti kata-kata: keadilan, kebenaran, persahabatan dan lain-lain.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Socrates membantah pandangan para Sofis , semisal Protagoras yang menganut suatu relativisme dengan menganggap bahwa adil tidaknya dan berani tidaknya sesuatu tergantung pada manusia saja, karena manusia adalah ukuran untuk segala sesuatu. Ia mematahkannya dengan menemukan bahwa dalam tiap segala sesuatu pasti ada hakekat yang membuatnya memiliki sesuatu yang tetap berupa inti sari.
E. Etika Socrates
Semua sumber yang memberikan informasi tentang ajaran Socrates, sepakat dalam mengatakan bahwa Socrates memperhatikan soal-soal praktis dalam kehidupan manusia, yaitu pada cabang filsafat yang disebut “etika”. Tidak dapat dipastikan apakah pemikiran Socartes tentang masalah-masalah etis memang merupakan suatu ajaran yang bercorak sistematis atau tidak. Lagi-lagi hal ini terjadi karena tidak terdapatnya buah pikirannya dalam bentuk karya tulis juga pada fakta bahwa Socrates tidak mengajar dalam arti kata yang sebenarnya. Namun demikian, beberapa titik ajaran yang biasanya dikenakan pada Socrates dapat kita temui dalam tulisan murid-muridnya.
Menurut Socrates, tujuan tertinggi kehidupan manusia ialah membuat jiwanya menjadi sebaik mungkin. Jiwa (psyche) yang dimaksud oleh Socrates yaitu jiwa sebagai inti sari kepribadian manusia. Atau dapat juga diistilahkan dengan kebahagiaan (eudaimonia), asalkan kebahagiaan ini dimengerti sebagaimana dimaksudkan dalam bahasa Yunani. Dalam pengertian kita sekarang, makna kebahagiaan sering diartikan hanya sebatas merasa bahagia secara subjektif. Lain halnya dengan definisi bahagia dalam bahasa Yunani yang maknanya adalah suatu keadaan objektif yang tidak tergantung pada perasaan subjektif. Atau dapat juga diartikan sebagai kesempurnaan (eudaimonia) yang artinya sama-sama bermakna mempunyai jiwa (daimôn) yang baik.
Implementasi dari upaya pencapaian tujuan utama berupa jiwa (psyche) yang baik tadi dapat diwujudkan dengan adanya arête (keutamaan) yang telah dibahas sebelumnya. Namun arête (keutamaan) yang dimaksud bukanlah pada spesefikasi keutamaan atau keahlian masing-masing, melainkan arête sebagai manusia yang kemudian dikenal dengan istilah moral.
Salah satu pendirian Socrates yang terkenal ialah bahwa “keutamaan” adalah pengetahuan (intelektualisme etis) . Hal ini karena keutamaan atau arête lahir dari pengetahuan. Menurutnya, seorang yang benar-benar tahu tentang “yang baik” tentu akan bersungguh-sungguh dalam mengaplikasikan “yang baik” itu.
Dari pendiriannya bahwa keutamaan adalah pengetahuan, Socartes menarik tiga kesimpulan :
1. Manusia tidak berbuat salah dengan sengaja, melainkan karena keliru atau ketidaktahuan.
2. Keutamaan itu satu adanya, pengetahuan tentang “yang baik” bersifat menyeluruh. Misal jika ada seseorang yang tidak adil atau berkekurangan lain, bagi Socrates sudah nyata bahwa orang itu tidak mempunyai keutamaan yang sungguh-sungguh.
3. Keutamaan dapat diajarkan kepada orang lain dengan cara menyampaikan pengetahuan pada sesama. Dalam hal ini, Socrates bukan beranggapan bahwa keutamaan dapat diajarkan dengan pelajaran-peajaran khusus, melainkan bahwa ada kemungkinan untuk menghantarkan orang kepada pengetahuan yang betul.
Adapun pengetahuan yang dimaksud Socrates jika dilihat dari dialog Plato, bukanlah merupakan pengetahuan yang semata teoritis, sebagaimana kritik yang disampaikan oleh Aristoteles. Melainkan harus dengan menganggapnya sebagai pengetahuan tentang “yang baik”. Seandainya ia bersifat jahat, sudah nyata bahwa dia tidak mempunyai pengertian tersebut. Dengan pendapatnya ini, Socrates sekali lagi menentang relativisme Protagoras dan kaum Sofis tentang relativisme kebaikan atau moral, yang menganggap standar kebaikan (moral) berbeda antar bangsa Athena dan bangsa Sparta. Dapat dibilang dia telah membuka mata manusia untuk beretika secara universal. Atas dasar inilah, Socrates pun dijuluki sebagai Bapak Filsafat Moral (Etika).
F. Politik Socrates
Tidak terdapat informasi yang menunjukkan bahwa Socrates menganut salah satu dari banyak teori tentang Negara. Meskipun begitu, ia berpendapat bahwa tugas negara adalah memajukan kebahagiaan para warga negara dan membuat jiwa mereka menjadi sebaik mungkin. Dengan demikian, prasyarat bagi seorang pemimpin mennurutnya adalah: harus mempunyai pengertian mengenai “yang baik”. Dia tidak mengagumi negarawan-negarawan seperti Themistokles dan Perikles yang memajukan keunggulan Athena dalam bidang ekonomi dan militer. Keahlian yang sungguh-sungguh menjamin kesejahteraan negara menurutnya adalah pengenalan tentang “yang baik”.
G. Pengikut-pengikut Socrates
• Mazhab Megara
Mazhab ini didirikan oleh pengikut Socrates yang bernama Euclides diri Megara (450-380 SM). Ia mencoba mendamaikan “yang ada” dari mazhab Elea dengan “yang baik” dari Socrates.
• Mazhab Elis dan Eretria
Phaidon dari Elis adalah kawan sewaktu Plato, tetapi lebih muda dan ia adalah murid Phaidon. Kemudian ia mendirikan suatu mazhab di kota Eretria. Rupanya ia terutama menaruh perhatiannya kepada persoalan-persoalan berhubungan dengan dialektika.
• Mazhab Sinis
Dalam bidang dialektika ia menentang teori Plato mengenai Idea-idea yang mempunyai kedirian (lihat h.104-110). Dan bidang etika ia beranggapan bahwa manusia mempunyai keutamaan, bila tahu melepaskan diri dari barang jasmani dan segala macam kesenangan seperti telah dipraktekkan oleh Socrates. Karena kesenangan adalah musuh terbesar bagi orang yang ingin hidup bahagia. Seorang bijaksana tidak tergantung dari sesuatu pun dan akibatnya hidup swasembada.
Diogenes dari Sinope (ca. tahun 400-325) berpendapat bahwa praktek hidup Antisthenes tidak sesuai dengan ajarannya. Dan ia sendiri mulai hidup secara konsekuen menurut prinsip-prinsip sinisme. Di kemudian hari ia terkenal karena cara hidupnya yang mengabaikan segala adapt istiadat yang berlaku dalam masyarakat sekitarnya. Banyak hikayat telah di ceritakan melalui Diogenes ini, antara lain bahwa ia memilih sebuah tong sebagai tempat kediamannya.
• Mazhan Hedonis
Aristippos 435-355 SM adalah murid Socrates yang dianggap sebagai pendiri mazhab Kyrene. Mazhab ini juga dinamakan mazhab hedonism, karena ajarannya dalam bidang etika. Aristippos dan murid-muridnya menyetujui pendapat Socrates bahwa keutamaan tidak lain daripada mencari “yang baik”. Tetapi mereka menyamakan “yang baik” itu dengan kesenangan (Hedon). Dan Aristippos menerangkan bahwa maksudnya ialah kesenangan badani dan bukan saja kesenangan rohani. Dari sebab itu pendirian itu disebut “Hedonisme”. Akan tetapi seorang yang bijaksana tidak akan mengejar kesenangan tanpa batas, karena kesenangan yang tak terbatas paa akhirnya mengakibatkan kesusahan. Yang harus dikejar adalah kesenangan maksimum disertai dengan kesenangan minimum.
H. Daftar Pustaka
Bertens, Kees. Sejarah Filsafat Yunani. 1979. Cetakan II. Yogyakarta: Kanisius.
Harun Hadiwijono. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. 2008. Cetakan XXIII. Yogyakarta: Kanisius.
Mohammad Hatta. Alam Pikiran Yunani. 1986. Cetakan III. Jakarta: UI Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar